Tell me that you turned down the man, who asked for your hand, 'cause you're waiting for me, and I know, you're gonna be away a while. But I've got no plans at all to leave.
Sudah dua tahun ini aku menunggunya untuk pulang. Melanjutkan kisah kami yang tertunda karena studinya ke Belanda. Dua tahun kami berpisah, dua tahun kami tak saling berkomunikasi, dua tahun tak ada pelukan lengan mungil itu. Dia yang selalu berada disisiku, pergi dan dipisahkan oleh jarak dan ruang yang jauhnya ribuan mil itu. Orang tuaku memang sudah mendesakku agar menikah lebih dahulu, tanpa tahu perasaanku pada gadis kecilku.
Annalise, nama gadisku itu. Tak banyak polah macam gadis seumurannya, dia cenderung lebih pendiam dan tertutup. Sampai saat aku menemukannya sedang terisak disebuah jembatan tak jauh dari camp kami saat berada dibangku sekolah menengah.Mata dan hidungnya yang memerah dengan isakan kecil yang mengiringinya, aku mendekat dan menjajarkan tubuhku disampingnya, menunggunya sampai ia tenang dan mau berbagi cerita padaku yang hanya berstatus 'kakak kelas' nya saat itu.
Menunggu sampai punggung itu tak bergetar, akhirnya ia pun tenang, dan berbalik perjalanan kembali kecamp yang tak jauh dari jembatan ini dan menghiraukanku yang sudah berdiri lama menunggu tangisnya reda.
What the heck, dia hanya melengang tanpa menoleh padaku, apa dia tak menyadari keberadaanku?
batinku sambil menatap punggungnya yang semakin menjauh.
---[ O.N.E ]---
And would you take away my hopes and dreams and just stay with me?
Acara api unggun yang banyak ditunggupun tiba. Malam itu seluruh siswa duduk melingkari api yang tengah berkobar sambil menyenandungkan lagu, adapula yang menari atau saling bergurau menertawakan lelucon yang entah kurang lucu itu. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan untuk mencari udara segar. Malam-malam begini? Ya, menurutku lebih baik daripada mendengar gurauan yang tak mutu itu.
Aku berjalan sambil mengirup udara malam yang entah nampak segar tak seperti saatku berada dikota yang hanya penuh dengan gas CO yang beracun itu. Tiba-tiba saatku sampai pada sebuah bangku tak jauh dari camp aku melihat gadis yang kulihat mengangis siang tadi, mengapa sebenarnya dia? Menyadari aku yang melangkah mendekatinya ia pun menoleh padaku dengan pandangan bingung.
Aku pun mendaratkan bokongku dibangku samping tempatnya duduk dengan diam, ia masih menatap lurus kedepan dan mengabaikanku lagi yang jelas-jelas berada disampingnya. Sampai ia membuka suaranya,
"Kamu siapa? Kenapa ada disini?" What the.. apa dia tidak mengenaliku? Bukankah tadi siang aku berdiri disampingnya dan.. ahsudahlah.
"Kenalkan, aku Athanial, kau bisa memanggilku Athan. Aku satu tingkat diatasmu," jawabku dengan tenang.
"Kau kakak kelasku?" tanyanya dengan polos yang membuatku semakin gemas dan ingin menjitaknya. Hell, apa dia tak mengenalku Athanial Daeryan lelaki penuh sejuta pesona, yang diidolakan banyak gadis di sekolah, katanya sih begitu.. Gadis itu tak mengenalku? Bukannya aku sombong, aku juga selalu menjadi juara paralel satu angkatanku, dan sering menyumbangkan prestasi pada sekolaku.Demi kadal terbang, aku ingin menenggelamkan badanku dilautan es Antartika.
"Ya. Kenapa kau disini?" jawabku sekenanya, karena masih kesal, "dan kenapa matamu sembab begitu? Apa kau baru saja menangis?" lanjutku.
"ermm.." dia hanya menggumam tak jelas.
"Kau bisa cerita padaku jika kau mau," kataku selembut mungkin, karena tak mau memaksanya.
"Kenapa Ayah meninggalkanku? Kenapa Ibu juga meninggalkanku? Kak Ares? Dan sekarang Kak Abra? Kenapa semua meninggalkanku?" tanyanya sambil terisak dan mengepalkan tangannya sampai buku jarinya memutih, emosinya meluap seketika.
"Apa yang terjadi?" tanyaku hati-hati.
"Ayah dan Ibu meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan pesawat untuk menjenguk kak Ares kuliah di luar negeri, dan kak Ares...kak Ares meninggalkanku sendiri disini. Di-dia tak mau pulang, setelah kembali kesana, setelah pemakaman orang tua kami. Dan se..karang kak Abra meninggalkaku seperti kak Ares.
"Siapa kak Abra mu itu? Kakak kandungmu juga seperti Ares?"
"B-b-bukan" jawabnya dengan tergagap. Lucu sekali.
"Pacarmu?"tanyaku menggoda.
"Bukan! Bukan!" sahutnya dengan cepat.
"Your crush?" tanyaku sekali lagi, dan dia hanya mengangguk samar.
"Kenapa semua orang meninggalkanku Athan?" tanyanya kembali padaku.
"Mungkin Tuhan punya rencana indah dibalik semua itu Anna. Kau harus percaya itu," ucapku menenangkannya.
"Kenapa aku harus percaya?" tanyanya dengan sinis padaku.
"Apa kau tak percaya Tuhan tak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hamba-Nya Anna? Ketika Tuhan memberikamu cobaan, Dia sedang mengujimu untuk ditingkatkan derajatmu dihadapan-Nya," Anna masih menatapku intens, seperti sedang mencerna kalimatku.
"Mm ya, sekarang aku mengerti. Terima kasih Athan. Apa sekarang kita resmi berteman?" tanyanya dengan air mata yang masih mengintip dari pelupuk matanya.
"Ya," jawabku sambil mengelus rambut hitamnya yang panjang itu.
"Dan kau berjanji tak akan meninggalkaku seperti Ayah, Ibu, kak Ares, dan kak Abra kan?" tanyanya sambil menengadahkan matanya tepat di manik mataku.
"Ya, aku akan selalu bersamamu," jawabku sambil memeluk tubuh mungilnya, dan ia balas memelukku.
Dan mulai malam itu kami berteman.
---[ O.N.E ]---
To Be Continue. xx
Sudah dua tahun ini aku menunggunya untuk pulang. Melanjutkan kisah kami yang tertunda karena studinya ke Belanda. Dua tahun kami berpisah, dua tahun kami tak saling berkomunikasi, dua tahun tak ada pelukan lengan mungil itu. Dia yang selalu berada disisiku, pergi dan dipisahkan oleh jarak dan ruang yang jauhnya ribuan mil itu. Orang tuaku memang sudah mendesakku agar menikah lebih dahulu, tanpa tahu perasaanku pada gadis kecilku.
Annalise, nama gadisku itu. Tak banyak polah macam gadis seumurannya, dia cenderung lebih pendiam dan tertutup. Sampai saat aku menemukannya sedang terisak disebuah jembatan tak jauh dari camp kami saat berada dibangku sekolah menengah.Mata dan hidungnya yang memerah dengan isakan kecil yang mengiringinya, aku mendekat dan menjajarkan tubuhku disampingnya, menunggunya sampai ia tenang dan mau berbagi cerita padaku yang hanya berstatus 'kakak kelas' nya saat itu.
Menunggu sampai punggung itu tak bergetar, akhirnya ia pun tenang, dan berbalik perjalanan kembali kecamp yang tak jauh dari jembatan ini dan menghiraukanku yang sudah berdiri lama menunggu tangisnya reda.
What the heck, dia hanya melengang tanpa menoleh padaku, apa dia tak menyadari keberadaanku?
batinku sambil menatap punggungnya yang semakin menjauh.
---[ O.N.E ]---
And would you take away my hopes and dreams and just stay with me?
Acara api unggun yang banyak ditunggupun tiba. Malam itu seluruh siswa duduk melingkari api yang tengah berkobar sambil menyenandungkan lagu, adapula yang menari atau saling bergurau menertawakan lelucon yang entah kurang lucu itu. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan untuk mencari udara segar. Malam-malam begini? Ya, menurutku lebih baik daripada mendengar gurauan yang tak mutu itu.
Aku berjalan sambil mengirup udara malam yang entah nampak segar tak seperti saatku berada dikota yang hanya penuh dengan gas CO yang beracun itu. Tiba-tiba saatku sampai pada sebuah bangku tak jauh dari camp aku melihat gadis yang kulihat mengangis siang tadi, mengapa sebenarnya dia? Menyadari aku yang melangkah mendekatinya ia pun menoleh padaku dengan pandangan bingung.
Aku pun mendaratkan bokongku dibangku samping tempatnya duduk dengan diam, ia masih menatap lurus kedepan dan mengabaikanku lagi yang jelas-jelas berada disampingnya. Sampai ia membuka suaranya,
"Kamu siapa? Kenapa ada disini?" What the.. apa dia tidak mengenaliku? Bukankah tadi siang aku berdiri disampingnya dan.. ahsudahlah.
"Kenalkan, aku Athanial, kau bisa memanggilku Athan. Aku satu tingkat diatasmu," jawabku dengan tenang.
"Kau kakak kelasku?" tanyanya dengan polos yang membuatku semakin gemas dan ingin menjitaknya. Hell, apa dia tak mengenalku Athanial Daeryan lelaki penuh sejuta pesona, yang diidolakan banyak gadis di sekolah, katanya sih begitu.. Gadis itu tak mengenalku? Bukannya aku sombong, aku juga selalu menjadi juara paralel satu angkatanku, dan sering menyumbangkan prestasi pada sekolaku.Demi kadal terbang, aku ingin menenggelamkan badanku dilautan es Antartika.
"Ya. Kenapa kau disini?" jawabku sekenanya, karena masih kesal, "dan kenapa matamu sembab begitu? Apa kau baru saja menangis?" lanjutku.
"ermm.." dia hanya menggumam tak jelas.
"Kau bisa cerita padaku jika kau mau," kataku selembut mungkin, karena tak mau memaksanya.
"Kenapa Ayah meninggalkanku? Kenapa Ibu juga meninggalkanku? Kak Ares? Dan sekarang Kak Abra? Kenapa semua meninggalkanku?" tanyanya sambil terisak dan mengepalkan tangannya sampai buku jarinya memutih, emosinya meluap seketika.
"Apa yang terjadi?" tanyaku hati-hati.
"Ayah dan Ibu meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan pesawat untuk menjenguk kak Ares kuliah di luar negeri, dan kak Ares...kak Ares meninggalkanku sendiri disini. Di-dia tak mau pulang, setelah kembali kesana, setelah pemakaman orang tua kami. Dan se..karang kak Abra meninggalkaku seperti kak Ares.
"Siapa kak Abra mu itu? Kakak kandungmu juga seperti Ares?"
"B-b-bukan" jawabnya dengan tergagap. Lucu sekali.
"Pacarmu?"tanyaku menggoda.
"Bukan! Bukan!" sahutnya dengan cepat.
"Your crush?" tanyaku sekali lagi, dan dia hanya mengangguk samar.
"Kenapa semua orang meninggalkanku Athan?" tanyanya kembali padaku.
"Mungkin Tuhan punya rencana indah dibalik semua itu Anna. Kau harus percaya itu," ucapku menenangkannya.
"Kenapa aku harus percaya?" tanyanya dengan sinis padaku.
"Apa kau tak percaya Tuhan tak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hamba-Nya Anna? Ketika Tuhan memberikamu cobaan, Dia sedang mengujimu untuk ditingkatkan derajatmu dihadapan-Nya," Anna masih menatapku intens, seperti sedang mencerna kalimatku.
"Mm ya, sekarang aku mengerti. Terima kasih Athan. Apa sekarang kita resmi berteman?" tanyanya dengan air mata yang masih mengintip dari pelupuk matanya.
"Ya," jawabku sambil mengelus rambut hitamnya yang panjang itu.
"Dan kau berjanji tak akan meninggalkaku seperti Ayah, Ibu, kak Ares, dan kak Abra kan?" tanyanya sambil menengadahkan matanya tepat di manik mataku.
"Ya, aku akan selalu bersamamu," jawabku sambil memeluk tubuh mungilnya, dan ia balas memelukku.
Dan mulai malam itu kami berteman.
---[ O.N.E ]---
To Be Continue. xx
Komentar
Posting Komentar